Soan Kelas Akhir: Memohon Doa dan Ijazah Barokah kepada Kiai Pengasuh Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon

Babakan Ciwaringin, Cirebon — Kamis pagi, 12 Juni 2025 / 15 Dzulhijjah 1446 H

Suasana haru dan khidmat menyelimuti kediaman para pengasuh Pondok Pesantren Assalafie Babakan. Di pagi yang tenang itu, para santri kelas akhir melaksanakan tradisi mulia: soan dan silaturahmi kepada para masyayikh, sebagai bentuk adab, penghormatan, dan permohonan doa sebelum mereka meninggalkan pondok atau melangkah ke jenjang berikutnya dalam kehidupan.

Soan ini dilakukan langsung ke kediaman KH. Azka Hammam Syaerozie, Lc sosok pengasuh utama yang menjadi panutan santri dalam ilmu, adab, dan kepemimpinan. Tampak pula jajaran dewan asatidz dan keluarga besar pesantren yang turut menyambut para santri dengan penuh kehangatan.

Sebuah Tradisi Penuh Makna

Soan bukan sekadar kunjungan formal. Ini adalah pertemuan batin antara murid dan guru. Di momen ini, para santri secara pribadi menyampaikan rasa terima kasih atas bimbingan selama bertahun-tahun, memohon maaf atas segala khilaf, dan yang paling penting — memohon restu serta doa keberkahan ilmu untuk masa depan.

“Kami ini bukan siapa-siapa tanpa doa dan rida dari guru kami,”

Pagi yang Menjadi Titik Awal Perjalanan Baru

Kediaman para pengasuh pagi itu menjadi saksi bisu haru-biru suasana perpisahan. Para santri datang berbaris rapi, mengenakan pakaian sopan, dan membawa hati penuh harap. Satu per satu mereka bersalaman, mencium tangan, dan menerima wejangan singkat dari para kyai — yang meski hanya beberapa kalimat, terasa membekas dalam hati.

Menyambung Sanad, Merajut Restu

Dalam tradisi pesantren, restu dan doa dari guru adalah bagian dari “sanad ruhani” — rantai keberkahan yang menyambungkan ilmu dengan keikhlasan. Maka soan ini bukan akhir dari masa mondok, melainkan awal dari misi dakwah dan pengabdian di tengah masyarakat

Penutup
Soan santri kelas akhir di Pondok Pesantren Assalafie Babakan bukan sekadar agenda penutup. Ia adalah simbol kuatnya budaya adab dalam tradisi pesantren: menghargai guru, memohon doa restu, dan menjaga silaturahmi. Di tengah era modern yang serba cepat, nilai-nilai seperti ini menjadi cahaya yang menuntun langkah para santri dalam mengarungi kehidupan.

“Berangkatlah dengan restu, berjalanlah dengan adab, dan pulanglah dengan ilmu yang membawa manfaat bagi umat.”

Penulis : Moh. Wildan Safriansyah

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *