Babakan Ciwaringin Cirebon, 13 Juni 2025 / 16 Dzulhijjah 1446 H — Nuansa ilmu dan spiritualitas menyatu indah di halaman Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon. Pada hari Jumat yang penuh berkah ini, diselenggarakan Halaqoh Ilmiyah sekaligus Launching STAINU (Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama) — tonggak baru pendidikan tinggi yang berbasis pesantren.
Acara ini menjadi momen bersejarah, tidak hanya bagi keluarga besar Pondok Assalafie, tetapi juga bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Dengan hadirnya STAINU, Babakan Ciwaringin kini bukan hanya dikenal sebagai pusat kajian kitab kuning, tetapi juga sebagai pelopor integrasi antara keilmuan Islam klasik dan akademik modern.

Halaqoh Ilmiyah: Menghidupkan Tradisi Diskusi Ilmu
Kegiatan halaqoh ilmiyah pagi itu dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat Nabi yang menggetarkan hati para hadirin. Para ulama, kyai, akademisi, dan santri dari berbagai daerah hadir untuk berdiskusi seputar peran pesantren dalam membangun peradaban ilmu di era digital.
Beberapa tema penting yang dibahas dalam halaqoh ini antara lain:
– Tantangan Pendidikan Islam di Era Disrupsi
– Menjaga Otoritas Ilmu di Tengah Derasnya Arus Informasi
– Sinergi Pesantren dan Perguruan Tinggi dalam Mencetak Ulama Intelektual
Sesi diskusi berlangsung khidmat namun interaktif. Para peserta terlihat antusias bertanya dan memberikan pandangan. Inilah ruh sejati dari halaqoh: belajar, bertanya, berdialog — bukan hanya mendengar.
Launching STAINU: Perjalanan Panjang yang Kini Menjadi Kenyataan
Peresmian STAINU menjadi puncak acara. Disambut takbir dan shalawat, penandatanganan prasasti oleh pengasuh pesantren bersama perwakilan dari LLDIKTI dan tokoh-tokoh NU menjadi simbol resmi berdirinya kampus ini.
Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama ini merupakan lembaga pendidikan tinggi yang akan membuka program studi seperti:
– Pendidikan Agama Islam
– Hukum Keluarga Islam
– Ekonomi Syariah
– Pengembangan Masyarakat Islam
Dengan sistem perkuliahan yang fleksibel dan berbasis pesantren, mahasiswa STAINU diharapkan mampu menjadi kader ulama intelektual yang membumi dan membangun negeri.
Pesantren dan Universitas: Dua Sayap Satu Tujuan
Menggabungkan kuliah dan kehidupan pesantren bukan perkara mudah, tapi bukan pula hal baru. Sejak dulu, pesantren adalah pusat transformasi sosial. Kini, melalui STAINU, transformasi itu diformat dalam struktur akademik yang terakreditasi.

“Pesantren bukan sekadar lembaga agama, tapi lembaga peradaban,” ujar salah satu pembicara halaqoh, menegaskan semangat integrasi yang dibawa oleh STAINU.
Babakan Ciwaringin: Dari Kampung Ilmu ke Kampus Ilmu
Kampung Babakan yang dahulu hanya dikenal lewat pesantren-pesantren salafnya, kini menjadi titik awal dari lahirnya pendidikan tinggi yang menyatu dengan nilai-nilai tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. Launching STAINU adalah jawaban atas kerinduan umat terhadap lembaga pendidikan yang tetap berpijak pada akar, namun menjulang tinggi ke masa depan.
Penutup
Dengan digelarnya Halaqoh Ilmiyah dan peresmian STAINU, Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin tak hanya menjaga warisan keilmuan, tetapi juga membuka jalan baru menuju sinergi ilmu, amal, dan akhlak. Ini bukan hanya sebuah acara — ini adalah awal dari gerakan ilmiah berbasis pesantren yang akan menerangi bangsa.
“Ilmu tanpa adab adalah racun, dan adab tanpa ilmu adalah hampa. Di sinilah keduanya disatukan — di jantung pesantren.“
Penulis : Moh. Wildan Safriansyah
