Pada suatu malam penuh ketenangan. Angin berhilir mendinginkan Azam, santri pondok pesantren Nurul Iman. Pesantren penuh barokah di tanah jawa. Lokasinya terletak jauh dari kampung halaman azam, yakni Sumatera utara.
Kemudian di tanah kelahirannya, ia merupakan anak tanpa Kakak dan tanpa Adik. Juga di perlihatkan Ayah Azam yang saat itu adalah seorang buruh tani dengan segala ketercukupan untuk memenuhi kebutuhan. Beserta Ibunya yang sedang terdiagnosa penyakit jantung, disebabkan oleh kondisi fisik yang melemah seiring usianya bertambah.
Dalam kesunyian kamar, Ayat demi ayat Azam lantunkan, Ia hafalkan dengan kesungguhan yang terpancar dari hatinya, bertujuan mencapai target Khotmil Qur’an minggu depan. Minggu ke-3 bulan mei. Sebagaimana juga saat-saat terakhir ia berada dipesantren, karena tahun berikutnya merupakan tahun ia kembali ke tanah kelahirannya setelah 6 tahun ia menempuh Pendidikan di Pesantren.
Seketika, dalam sela-sela lantunan Ayat Al-Qur’an yang memantul pada Cahaya rembulan, Azam menoleh. Melirik terhadap satu titik. Satu arah. Pintu kamar diasramanya. Ia melihat kedatangan kang Syauqi, pembimbing kamar yang memang sedari awal membimbing Azam berkembang di pesantren. Beliau menghampirinya, kemudian menyampaikan pesan. Pesan yang berasal dari keluarganya.
Kg. Syauqi: “Zam, kamu sedang mengulang pelajaran latihan khotimin tadi sore…?”
Azam: “iya kang, memangnya kenapa ya…?”
Kg. Syauqi: “owala, gapapa Zam, tadi ayahmu nelpon…”
Azam: “owh begitu kang…, memangnya ayah bilang apa kang?”
Kg. Syauqi: “iya Zam, ayahmu bilang ingin bicara, tentang kondisi Ibumu…”
Azam: “……(menutup Al-Qur’an yang sedari tadi Ia genggam)…..Shadaqallahul ‘adzim”
Kg. Syauqi: “gapapa Zam, kamu selasaikan dulu aja mengulangnya..”
Azam: “gapapa kang, saya sudah lumayan lancar…, lagi pula masih tersisa 1 hari lagi sebelum pementasan, Insya Allah masih sempat untuk muroja’ah,”
(dengan penuh kekhawatiran, Azam segera menanyakan tentang kabar Ibunya)
Azam: “lantas kabar Ibu saya bagaimana kang?”
Kg. Syauqi: “yasuda Zam, jagi begini. Sore tadi ayahmu nelpon Saya, kemudian bicara kurang lebih seperti ini:
(“Kang. Maaf, saya nitip Azam lagi ya tahun ini, saya belum bisa datang, tetapi kang, biasanya saya ngga datang kalau Azam ada acara karena kurang Uang…, namun sekarang karena saya gamampu kang, kalau ninggalin Ibu nya Azam sendirian di sini. Penyakit jantungnya kambuh, sekarang sedang dirawat, sampaikan juga maaf untuk Azam ya kang…., terimakasih, maaf merepotkan selalu..”)
Azam: “….(terdiam, menahan bendungan air mata)… Saya mungkin juga merasa demikian kang, semisal mereka ga datang…, lalu penghargaan Khataman ini untuk siapa ya kang? (mulai terisak) dari awal saya mondok saya berharap dengan kesungguhan ini kang, ingin saya berikan ke Ibu, (tak kuasa menahan bendungan air matanya).
Azam mulai meneteskan air matanya. Kang Syauqi juga demikian, tertegun.
Kg. Syauqi: “yang sabar ya Zam, percayalah, kamu tidak berjuang sendirian. Kamu harus yakin kamu bisa. (mengusap hangat bahu Azam dengan ketulusan).
Demikian hari berganti. Hari dimana para ahli Al-Qur’an dirayakan. Rembulan lebih terang malam ini. Udara juga lebih dramatis mengantarkan lantunan-lantuna suara peserta Khotmil Qur’an bergema melalui mikrofon yang mereka genggam.
Panggung megah dengan suasana yang pecah bergema. Tak hanya hal itu yang menjadikan mewah. Namun, dalam satu sudut pandang mata yang terus mengaliri air. Azam. Air matanya berhamburan ketika menyadari kehadiran seseorang. Berwajah tua dengan penuh kebanggan, terharu. Duduk di bagian depan, dengan kursi roda yang Ia sandarkan. Ibu kandung Azam.
Setelah selesai melantunkan Impian terbesarnya, Azam bergegas mendatangi sosok yang menunggunya. Ia berlari dengan penuh kebahagian, walau air matanya berserakan.
Azam: “Bu, Azam hanya mampu seperti ini untuk Ibu…” (bersujud sembari mencium kaki Ibunya)
Seketika, Azam beranjak pada keadaan yang telah Ia impikan. Bahagia termahal yang Ia miliki.
“Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita,”
(Q.s At – Taubah : 40)
Penulis : Indra Akbar Sukmawan
