Sampai kapan jadi santri?

Jawabannya: Selamanya.
Banyak dari kita dulu hidup dalam suasana pesantren bangun malam, murojaah, menjaga adab, menjaga pandangan, bahkan begitu alim menjaga aurat dan hati. Tapi setelah boyong, dunia luar perlahan mengikis itu semua.

Dulu takut dosa… kini banyak yang tak peduli lagi.
Dulu menjaga waktu… kini sering lalai.
Dulu lembut dan tawadhu… sekarang hati mulai mengeras.
Dulu ilmu jadi cahaya… kini kenyamanan dunia jadi alasan.

Padahal boyong bukan akhir, justru awal ujian.
Di pondok kita dijaga lingkungan—guru, adzan, teman, adab.
Di luar hanya hati dan iman… dan keduanya mudah kalah oleh rasa nyaman.

Jika kita merasa sudah bukan santri hanya karena tidak tinggal di pondok, berarti sejak awal kita belum benar-benar memahami maknanya.

Menjadi santri adalah identitas batin—amanah yang hidup selamanya.
Bukan tentang lamanya mondok, tapi lamanya menjaga adab.
Bukan banyaknya hafalan, tapi istiqamah mengamalkannya.

Maka untuk kalian yang mulai jauh…
Tidak ada ruginya kembali menjadi dirimu yang dulu.
Tidak ada kata terlambat untuk kembali menjaga pandangan, adab, dan ilmu.

Tetaplah menjadi santri.
Meski tak lagi tinggal di pondok.
Meski hidup membawa ke arah berbeda.

Sebab pondok ada dalam jiwamu,
dan ilmu adalah cahaya yang harus dijaga
hingga akhir hayat.

Penulis : Moh. Wildan, S.F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *