Babakan Ciwaringin, Cirebon — Jum’at malam Sabtu, 13 Juni 2025 / 17 Dzulhijjah 1446 H
Malam yang penuh makna dan keheningan spiritual di kawasan Maqbaroh KH. Abdul Hanan, salah satu tokoh kharismatik pendiri Pesantren Assalafie. Di malam itu, ratusan peserta khataman kitab bersama para asatidz dan santri mengikuti kegiatan ziarah dan doa bersama sebagai penutup rangkaian khataman yang berlangsung khidmat selama beberapa hari.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas spiritual, melainkan juga bentuk adab dan penghormatan kepada para pendiri pesantren. Ziarah menjadi tradisi khas pesantren — memadukan ilmu, doa, dan rasa syukur kepada Allah SWT atas taufik menyelesaikan kajian kitab-kitab kuning.
Malam Penuh Khidmat di Maqbaroh KH. Abdul Hanan
Di bawah langit malam yang teduh, para peserta khataman berkumpul di maqbaroh dengan mengenakan pakaian putih-putih, membawa mushaf, dan kitab kecil untuk berdzikir. Suasana hening, hanya terdengar lantunan tahlil dan doa yang mengalun syahdu, dipimpin langsung oleh para masyayikh dan pengasuh pesantren.
Ziarah ini menjadi momentum spiritual, menghubungkan sanad keilmuan dengan kekuatan ruhani para ulama terdahulu.

Khataman Kitab: Ilmu yang Ditutup dengan Doa
Peserta ziarah adalah para santri yang mengikuti khataman Tradisi khataman ini tidak hanya menunjukkan penguasaan materi, tapi juga sebagai ajang memperkuat sanad keilmuan yang terhubung sampai kepada para ulama salaf.
Khataman yang ditutup dengan ziarah ini mengajarkan bahwa ilmu tidak berdiri sendiri, tetapi selalu dibarengi dengan keberkahan dan doa dari guru-guru terdahulu.
Menghidupkan Tradisi, Merawat Warisan
Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin dikenal sebagai salah satu sentra ilmu salafiyah di tanah Cirebon. Tradisi ziarah setelah khataman merupakan bagian penting dari pendidikan ruhani yang melekat kuat dalam kehidupan santri.
“Dengan ziarah, santri belajar bersikap tawadhu, menyadari bahwa ilmu bukan hasil usaha pribadi saja, tetapi juga buah dari doa dan perjuangan orang-orang yang telah wafat mendahului kita,” tutur salah satu santri senior.
Penutup
Ziarah peserta khataman di maqbaroh KH. Abdul Hanan bukan sekadar menutup rangkaian khataman kitab, tetapi juga membuka kesadaran baru bahwa ilmu harus disertai adab, doa, dan penghormatan kepada guru. Di tengah modernisasi pendidikan, tradisi seperti ini adalah pelita yang menjaga cahaya keilmuan tetap hidup — dari maqbaroh ke madrasah, dari santri untuk peradaban.
“Ilmu akan bercahaya jika disinari adab dan didoakan para wali.”
Penulis : Muhammad Al-Farobby
