Deepfake dan Fitnah Dajjal: Persiapan Santri Gen Z Menghadapi Hoaks Digital Tingkat Dewa

Oleh : Mohammad Wildan S.F

ulu, orang tua kita selalu berpesan, “Melihat adalah percaya”. Kalau sudah ada bukti foto atau videonya, berarti kejadian itu valid. Tapi selamat datang di era Deepfake, di mana pepatah kuno itu sudah resmi kedaluwarsa.

Hari ini, dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), seseorang bisa membuat video tokoh terkenal sedang berpidato, marah-marah, atau melakukan hal konyol, padahal di dunia nyata tokoh tersebut sedang tertidur pulas di rumahnya. Wajahnya sama, suaranya sama persis, mimik bibirnya pun pas. Menyeramkan, bukan?

Bagi kita, ini mungkin sekadar kecanggihan teknologi. Tapi kalau kita tarik benang merahnya ke kajian eskatologi (akhir zaman), bukankah Deepfake ini terasa seperti “versi demo” dari fitnah Dajjal?

Dajjal: Manipulator Realitas Kuno vs Modern
Dalam berbagai literatur klasik dan hadis sahih, Dajjal digambarkan bukan sekadar monster menakutkan, melainkan puncak dari segala manipulasi (Al-Masih Ad-Dajjal yang berarti ‘Sang Pembohong Besar’).

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Dajjal akan datang membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka. Namun kenyataannya, surganya adalah neraka (kebatilan), dan nerakanya adalah surga (kebenaran). Dia memutarbalikkan realitas.

Sekarang coba bandingkan dengan hoaks digital tingkat dewa hari ini. Berita palsu dibungkus visual meyakinkan (surga/kebenaran palsu), sementara kebenaran sejati di-edit dan difitnah sedemikian rupa agar terlihat buruk (neraka/kebatilan palsu). Skemanya sama persis, hanya alatnya yang berevolusi dari sihir menjadi barisan kode algoritma.

Ini berisi: Derecho a la protección de los datos

Skill Set Santri: Tameng Anti-Kiamat Digital
Lalu, bagaimana cara kita bertahan? Di sinilah peran krusial Santri Gen Z. Khususnya buat teman-teman yang masih duduk di bangku Aliyah. Punya ritme hidup di mana pagi hari pusing menghafal mushthalah hadis dan sorenya asyik membedah sistem coding atau nge-admin aplikasi pesantren, sebenarnya adalah skill set anti-hoaks yang paling paripurna!

Kenapa tradisi pesantren sangat ampuh melawan Deepfake?

  • Ilmu Sanad adalah Forensik Digital: Di kelas mushthalah hadis, kita diajarkan untuk tidak pernah menelan mentah-mentah sebuah teks (matan) sebelum mengecek siapa yang membawanya (sanad). Apakah perawinya tsiqah (kredibel) atau kadzab (pembohong)? Logika ini adalah fondasi literasi digital. Saat melihat video viral, insting santri akan otomatis mencari “sanad” URL-nya. Siapa yang upload pertama? Apakah dari portal berita resmi atau akun bodong?

  • Keseimbangan Logika dan Tazkiyatun Nafs: Hoaks itu menyebar cepat karena memancing emosi (marah, takut, atau fanatik buta). Orang yang hatinya keruh akan langsung menekan tombol share. Tapi santri yang terbiasa melatih keheningan batin dan kejernihan pikiran lewat tasawuf, tidak akan mudah terprovokasi oleh algoritma media sosial yang memang dirancang untuk memancing keributan.

Garis Bawah
Fitnah Dajjal di era modern tidak bisa dilawan hanya dengan bermodal doa sapu jagat sambil menutup diri dari teknologi. Ia harus dilawan dengan literasi.

Generasi pemenang di masa depan adalah mereka yang tangannya lincah merangkai sistem IT, membuat ilustrasi dakwah visual yang memanjakan mata, tapi mindset analitisnya tetap setajam ulama ahli hadis masa lalu. Deepfake mungkin bisa menipu mata kamera, tapi ia tidak akan pernah bisa menipu mata batin yang terkalibrasi dengan ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *