Mitos “Tidurnya Orang Puasa itu Ibadah”: Alasan Kenapa Santri Produktif Anti Kaum Rebahan

Oleh: Mohammad Wildan, S.F

Setiap kali bulan puasa tiba, ada satu “mantra” sakti yang paling sering dilontarkan untuk melegitimasi kemalasan: “Tidurnya orang puasa itu ibadah.” Berbekal kalimat ini, tidak sedikit dari kita yang tiba-tiba bermetamorfosis menjadi “kaum rebahan” profesional, menghabiskan waktu dari terbit fajar hingga menjelang azan magrib di atas kasur.

Namun, benarkah Islam memuliakan kemalasan di bulan suci? Atau jangan-jangan, kita selama ini sedang dininabobokan oleh pemahaman yang terpotong? Mari kita bedah mitos ini dengan kacamata kritis.

Dibedah dengan Pisau Mushthalah Hadis
Sebagai umat yang kritis, kita tentu tidak bisa menelan mentah-mentah setiap kalimat berbahasa Arab dan menganggapnya sebagai landasan hukum yang mutlak. Kalimat “Naum ash-shaim ‘ibadah” (tidurnya orang berpuasa adalah ibadah) memang sangat populer di masyarakat. Namun, mari kita buka lembaran ilmu mushthalah hadis.

Para ulama ahli hadis telah lama meneliti sanad (jalur periwayatan) hadis ini. Ulama sekelas Imam Al-Baihaqi memang meriwayatkannya, namun beliau dan pakar lain seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam Al-Iraqi memberikan catatan tebal: sanad hadis ini tergolong dhaif (lemah). Bahkan, dalam beberapa jalur periwayatan, terdapat perawi yang kredibilitasnya diragukan oleh para ahli.

Artinya, menggunakan hadis dhaif sebagai tameng utama untuk melegalkan tidur seharian dan menelantarkan kewajiban produktif adalah sebuah kekeliruan, baik secara akademis maupun spiritual.

Tidur Itu “Pintu Darurat”, Bukan “Fasilitas VIP”
Lalu, apakah ulama klasik membuang begitu saja kalimat tersebut? Tentu tidak. Dalam tradisi keilmuan, kalimat ini dipahami secara sangat proporsional.

Tidur saat berpuasa dinilai sebagai ibadah hanya jika tidur tersebut berfungsi untuk menyelamatkan diri dari kemaksiatan. Misalnya, daripada nongkrong yang berujung pada ghibah (menggunjing), berbohong, atau memandang hal-hal yang menggugurkan pahala puasa, maka tidur jelas menjadi pilihan yang lebih baik dan bernilai pahala karena niatnya menjauhi dosa.

Namun, tidur di sini ibarat “pintu darurat”. Ia hanya dipakai saat kondisi benar-benar mengancam kualitas iman kita. Menjadikan tidur sebagai rutinitas utama sama saja dengan berdiam diri di pintu darurat dan mengabaikan fasilitas VIP Ramadan yang terbentang luas: pahala membaca Al-Qur’an, berkarya, menuntut ilmu, dan beramal saleh.

Cara Kerja DNA | HowStuffWorks

DNA Santri Produktif: Anti Rebahan di Bulan Puasa
Jika kita menengok sejarah, bulan puasa justru selalu menjadi saksi bisu dari puncak produktivitas umat Islam. Perang Badar yang heroik dan penuh strategi terjadi di bulan Ramadan. Bahkan, proklamasi kemerdekaan Indonesia pun dikumandangkan di pertengahan bulan puasa. Jelas, tidak ada sejarah besar yang dicetak dari atas kasur.

Bagi generasi produktif terutama para santri yang terbiasa dengan ritme disiplin—bulan puasa adalah arena akselerasi. Alih-alih rebahan, waktu yang ada justru dimanfaatkan untuk hal-hal substantif. Mulai dari mengejar target ngaji pasaran, memperdalam literasi kitab, hingga tetap berkarya mengasah skill agar tetap bermanfaat bagi orang banyak.

Kesimpulan
Kalimat “tidurnya orang puasa adalah ibadah” bukanlah lisensi untuk menjadi pemalas. Puasa sejatinya adalah momentum untuk menundukkan hawa nafsu, dan itu termasuk menundukkan nafsu untuk terus-terusan rebahan.

Mari kita luruskan mindset. Tidurnya orang yang berpuasa memang bisa bernilai ibadah, tapi bangun dan berkaryanya orang yang berpuasa, pahalanya jauh lebih dahsyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *