Dinasti Abbasyiah sebagai pemimpin peradaban islam pada abad ke-8 hingga 13 masehi. Hal ini disebar luaskan oleh sejarahwan Islam dalam menjelajahi ribuan jendela sejarah. Mengapa demikian? Karena, pada masa keemasan ini banyak jendela dunia yang mempusatkan berbagai sektor kebutuhan negara terhadap bangsa Islam. Sebagaimana pada saat itu Islam berhasil berkembang pesat dalam kekuasaan dinasti Abbasyiah.
Dinasti “Abbasiyah” diambil dari al-‘Abbas bin ‘Abd al-Muththalib, paman Nabi Muhammad ﷺ, karena para pendirinya mengklaim keturunan dari beliau. Berdiri setelah hancurnya kekuasaan Dinasti Umayyah, tepatnya pada 750 masehi saat Gerakan revolusi yang dipimpin oleh keturunan Al-‘abbas. Dinasti inilah yang mengantar peradaban Islam sampai mendapatkan gelar The Golden Age (Masa Kejayaan) dalam perspektif sejarahwan dunia.
Khalifah Dinasti ini terdiri dari 37 khalifah, dimulai dari Abu Abbas As-Saffah pada tahun 750 masehi, yang diakhiri oleh Khalifah terakhir yakni Al-Musta’shim tahun 1258. Walau mereka yang memulai dan yang mengahiri, namun The Golden Age (Masa Kejayaan) berada pada masa kekuasaan Khalifah Harun Ar-Rasyid tahun 786 masehi dan Al-Ma’mun pada tahun 813 masehi.

The Golden Age (Masa Kejayaan) Dinasti Abbasyiah berhasil menjadi pusat peradaban islam dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, diantaranya ialaah ilmu pengetahuan, budaya, bahkan perabadan bangsa. Hal ini semua terjadi bermula ketika Dinasti Abbasyiah mengambil alih kekuasaan dari Dinasti Umayyah pada tahun 750 M, kemudian Abbasiyah memindahkan pusat pemerintahan ke Baghdad, kota yang kelak menjadi ibu kota ilmu pengetahuan terbesar. Kemudian, puncak keilmuan itu ditandai dengan berdirinya Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), sebuah lembaga megah yang berfungsi sebagai perpustakaan, pusat penelitian, ilmu kedokteran dan tempat penerjemahan karya-karya ilmiah dari Yunani, Persia, India, dan Romawi. Pada masa inilah ilmuwan seperti Hunain ibn Ishaq, Al-Kindi, dan Al-Farabi mengembangkan karya-karya besar mereka.
Selain itu juga Dinasti Abbasyiah mencapai puncak kejayaan mereka dalam bidang arsitektur dan kebudayaan, kemudiam Baghdad dan kota-kota Islam lainnya berkembang menjadi pusat seni, sastra, filsafat, ekonomi, kedokteran, dan budaya, sementara pembangunan masjid megah, istana, taman, dan madrasah menjadi simbol kemajuan peradaban Islam yang begitu harmonis antara ilmu, seni, dan arsitektur spiritual masyrakat bangsa Islam.

Setelah mempimpin peradaban islam selama sekitar 5 abad, tepatnya 750m-1258m, Dinasti Abbasyiah akhirnya turun dari tahta kekuasaanya atas invasi bangsa mongol. Mengapa terjadi begitu saja? Karena, bermula Ketika Dinasti Abbasiyah runtuh pada 1258 M ketika pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan menyerbu dan menghancurkan Baghdad, ibu kota Abbasiyah. Kejatuhan ini terjadi karena kombinasi kelemahan internal seperti melemahnya kekuasaan khalifah, pemberontakan daerah, dan perebutan kekuasaan di istana serta ancaman eksternal dari ekspansi Mongol yang begitu mengancam.
Sehingga Khalifah terakhir, Al-Musta‘sim, tidak mampu mempertahankan Baghdad. Setelah pengepungan singkat, Mongol membantai penduduk, meruntuhkan bangunan, dan membakar perpustakaan besar seperti Bayt al-Hikmah, sehingga menyebabkan hilangnya banyak karya ilmiah Islam.
Peristiwa ini menandai akhir kekuasaan Abbasiyah di Baghdad dan menjadi salah satu titik paling gelap dalam sejarah peradaban Islam. Juga sebagai cerminan atau pembelajaran bagi manusia era sekarang, untuk menjaga keutuhan hubungan antar sosial.
Penulis : Indra Akbar Sukmawan
