Seringkali, istilah “Santri” hanya diidentikkan dengan anak muda bersarung yang kesehariannya hanya mengaji, membaca kitab kuning, dan hidup sederhana di pondok pesantren. Di era modern yang serba cepat dan penuh persaingan ini, banyak yang bertanya: mampukah santri bersaing di dunia luar?
Jika kamu termasuk yang meragukannya, kamu wajib meresapi pesan mendalam dari KH. Azka Hammam Syaerozie, Lc., Pengasuh Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin Cirebon.
Dalam sebuah dawuhnya yang penuh makna, beliau menyampaikan sebuah realitas sekaligus cambukan semangat untuk para santri di mana pun berada:
“Santri mungkin merupakan kelompok minoritas yang jumlahnya sedikit. Oleh karena kedudukannya tersebut, seorang santri dituntut untuk memiliki sifat ‘kendel’—suatu keberanian dan keteguhan hati yang luar biasa.” – KH. Azka Hammam Syaerozie, Lc.

Apa itu Mental ‘Kendel’?
Dalam bahasa Jawa, kendel berarti berani. Tapi dalam konteks pesantren, kendel bukan berarti berani ngajak ribut atau nekat tanpa aturan. Kendel di sini adalah keberanian moral dan keteguhan prinsip.
Di saat mayoritas anak muda sibuk mengikuti tren yang kadang tak tentu arah, santri harus kendel (berani) tampil beda dengan memegang teguh akhlak dan syariat. Di saat dunia kerja dan masyarakat menuntut persaingan yang kejam, santri harus kendel menghadapi tantangan dengan modal kejujuran, keuletan, dan doa.

Itulah mengapa banyak alumni pesantren yang sukses menjadi pemimpin, pengusaha, hingga tokoh masyarakat. Mereka mungkin minoritas secara jumlah, tapi mereka punya “senjata rahasia” yang dilatih bertahun-tahun di pondok: Mental Baja yang Pantang Menyerah.
Mereka tidak kaget dengan kesulitan, karena hidup mandiri di pesantren sudah menempa mereka menjadi pribadi yang tangguh.

Santri Adalah Jawaban Tantangan Zaman
Dawuh KH. Azka Hammam Syaerozie ini menyadarkan kita bahwa menjadi santri bukan berarti tertinggal zaman, melainkan sedang mempersiapkan diri menjadi agen perubahan yang punya prinsip kuat.
Dunia saat ini tidak hanya butuh orang pintar, tapi butuh orang yang ‘kendel’ menyuarakan kebenaran dan menebar kedamaian.
